Melampaui Menara Gading: Pengabdian kepada Masyarakat sebagai Jalan Relevansi Perguruan Tinggi dalam Implementasi Tri Dharma mengangkat persoalan mendasar tentang hubungan antara perguruan tinggi dan kehidupan masyarakat. Buku ini berangkat dari kegelisahan bahwa pengetahuan, penelitian, dan inovasi yang dihasilkan di ruang akademik belum selalu mampu mengalir secara nyata ke tengah masyarakat. Di tengah keberadaan lebih dari 4.400 perguruan tinggi di Indonesia, pertanyaan mengenai seberapa jauh kekuatan akademik tersebut menghasilkan perubahan sosial menjadi semakin penting untuk dijawab.
Buku ini menempatkan pengabdian kepada masyarakat bukan sebagai aktivitas pelengkap atau kewajiban administratif perguruan tinggi, melainkan sebagai salah satu jalan utama untuk membangun relevansi akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Melalui pendekatan yang memadukan perspektif yuridis, teologis, empiris, metodologis, dan Ekonomi Islam, pembahasan diarahkan untuk memahami kesenjangan antara potensi besar perguruan tinggi dan dampak sosial yang dihasilkan, sekaligus menemukan pendekatan yang memungkinkan pengetahuan akademik diterjemahkan menjadi perubahan yang berkelanjutan.
Melampaui Menara Gading pada akhirnya mengajak pembaca melihat kembali makna keberadaan perguruan tinggi. Kampus tidak seharusnya menjadi ruang pengetahuan yang terpisah dari realitas sosial. Sebaliknya, perguruan tinggi perlu hadir sebagai bagian dari ekosistem masyarakat, menjadikan ilmu pengetahuan sebagai instrumen pemberdayaan, dan menjadikan pengabdian sebagai ruang perjumpaan antara pengetahuan akademik dengan pengalaman hidup masyarakat. Dengan perspektif tersebut, pengabdian kepada masyarakat tidak lagi ditempatkan di pinggiran Tri Dharma, tetapi sebagai salah satu indikator penting dari seberapa relevan, bertanggung jawab, dan berdampaknya sebuah perguruan tinggi bagi bangsa.